, ,

BERBAGI KEBERSAMAAN DENGAN TANGO #HANDINHAND

Aku punya momen tentang indahnya berbagi. Di sebuah desa bernama Cabi, yang terletak di Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan. Sekitar dua setengah jam dari ibu kota provinsi, Banjarmasin.

Di sana aku baru menyadari betapa sederhananya berbagi itu. Peristiwa yang awalnya membuatku merengut, namun akhirnya membuatku tersenyum.

Kenangan ini terjadi dua tahun yang lalu. Ketika aku harus melewatkan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di sana selama 1 bulan.

Sekilas aku yakin aku akan baik-baik saja. Tidak seperti desa lain, akses ke desa Cabi sangat mudah. Desa Cabi terletak di pinggir jalan menuju ibu kota provinsi. Aku pikir, untuk ukuran desa yang mudah di akses, Cabi tidak mungkin kekurangan apa-apa.

Namun, tahukah kawan apa masalah di sana? Air. Ya, air. Mereka kekurangan air di sana. Mengherankan. Sebagai anak Kalimantan, aku bangga karena Kalimantan terkenal dengan hutan dan sungainya. Aku terlahir di daerah Hulu Sungai. Daerah di mana sungai mengalir seakan tak berujung. Menganak tak terhitung. Ditambah dengan rawa luas sejauh mata memandang.

Tapi tidak di Cabi. Sebulan aku di sana, hanya sehari aku menemukan hujan. Cabi merupakan daerah perkebunan karet yang panas. Hari pertama aku di sana, orang-orang mengantri bak ular di satu-satunya sumur yang tidak pernah kering. Sumur itulah yang menjadi tumpuan hidup warga yang tidak mampu membangun sumur sendiri. Desa itu belum terjangkau PDAM.

Aku yang terbiasa dengan air melimpah tiba-tiba harus kekurangan air. Mengangkut air bolak-balik dari sumur. Bangun pagi sekali biar tidak mengantri. Kadang bahkan tidak mandi. Pokoknya untuk urusan kamar mandi, moodnya tiba-tiba bisa hilang sendiri.

Semangatku langsung merosot. Jelas aku dan teman-teman kelompokku tidak bisa membantu mereka. Tidak secara nyata dalam waktu satu bulan. Sudah jelas masalah mereka adalah kekurangan air. Kami tidak mungkin membuatkan sumur tambahan yang biayanya puluhan juta rupiah. Yaah, setidaknya itulah yang ada dipikiranku.

Yang kami lakukan hanyalah membagi ilmu. Mengadakan bermacam kegiatan di desa yang sepi. Mengajar anak-anak mengaji, menghadiri acara sunatan, memberikan penyuluhan kesehatan, mengadakan kerja bakti, membuatkan kue pengantin di resepsi pernikahan, membuat peta dengan GPS, berpartisipasi penuh dalam acara tujuhbelasan dan mengadakan pesta ayam bakar di malam perpisahan.

Hanya itu. Ya, hanya itu. Aku pikir mungkin kelompok kami adalah peserta terburuk di KKN. Kami tidak punya program besar untuk membantu desa. Kami mungkin akan segera terlupakan oleh warga begitu masa KKN selesai.

Ketika tiba saatnya harus pulang. Aku heran melihat warga sekampung mengantar kepergian kami. Pikirku, mungkin warga sudah tidak sabar melihat kami pergi. Tapi keherananku dengan warga bukan apa-apa dibanding ketika kami pamit kepada bibi di sebelah penginapan. Beliau menangis sambil memeluk kami. Beliau bilang tidak ingin kami pergi. Beliau meminta kami berjanji untuk sering-sering kembali.

Aku  baru paham ketika melihat anak-anak kecil menangis. Mereka bilang sudah terbiasa belajar dan bermain bersama kami. Mereka juga tidak ingin kami pergi. Bahkan kepala desa mengatakan kepada dosen, kalau diijinkan, dia berharap kami tinggal beberapa bulan lagi.

Aku baru mengerti bahwa tidak perlu memberikan sesuatu yang besar untuk berbagi. Interaksi sehari-hari, sedikit ilmu yang saling kami bagi, bahkan kehadiran kami di sana sudah cukup bagi mereka. Hal yang awalnya kuanggap tak berarti akhirnya membawa kehangatan dalam hati. Kebersamaan ternyata juga bisa dibagi.

Gambar 1. Berbagi Cara Pembuatan Jahe Instan

Gambar 2. Berbagi Tawa di Kebun Karet

Gambar 3. Berbagi Kebanggaan setelah Pentas Tari

Gambar 3. Berpose Dulu sebelum Berbagi Keceriaan di Lomba Bola Daster

Belakangan aku sadari bahwa sikap skeptis tentang berbagi ku warisi dari ibu. Ketika melihat mainan keponakanku yang tidak terpakai lagi, aku memutuskan untuk menyumbangkannya ke program Tango #Hand in Hand.

Sambil membantu mengepak, ibu menyatakan kekhawatirannya. Beliau khawatir kalau mainan yang kami sumbangkan terlalu sederhana. Bagaimana kalau mainan itu dianggap tidak layak? Bagaimana kalau anak-anak itu tidak suka?

Tidak kupungkiri kalau kekhawatiran yang sama juga melintas di kepalaku. Apalah artinya mainan dan buku sederhana yang kami punya. Tapi aku berusaha mengingat kembali pengalamanku waktu KKN. Berbagi itu sederhana. Kebersamaan juga bisa dibagi.

Meskipun sederhana, kuharap mainan dan buku yang kukirimkan bisa menghasilkan kebersamaan di Nias. Mungkin, mainan itu bisa dimainkan bareng. Mungkin buku itu bisa dibaca bersama. Kuharap ada momen kebersamaan yang tercipta. Kuharap momen itu akan menjadi momen yang indah bagi mereka.

So, let's join Tango Hand in Hand. Together, make them smile in simple way. Let's join this event. See more information about it here ^_^

Note 1: You can see some of our activities at Cabi Village here ^_^
Note 2: Find me on Facebook and Twitter ^_^
Share:

0 komentar:

Posting Komentar